------------------------------

Daftar 8 Brand Fashion Indonesia yang Sering Dikira Brand Luar Negeri

Banyak dari kita, orang Indonesia yang masih menganggap remeh produk lokal, terutama para pecinta fashion. Bahkan ada anggapan bahwa "barang yang berkualitas pastinya adalah barang impor". Sebagai konsumen, tak jarang dari kita yang mengira sebuah brand berasal dari luar negeri karena kualitasnya yang bagus. Alih-alih menggunakan produk serba impor, kita malah memakai produk buatan dalam negeri. Berikut Daftar 8 Brand Fashion Indonesia yang Sering dikira Brand Luar Negeri :

1. LEA

Para pecinta fashion berbahan dasar jeans atau denim tentunya sudah tidak asing lagi dengan nama LEA. Bila mendengar merek ini, kita akan mensejajarkan dengan Levi's atau Lee yang memang merek terkenal sebagai produk berkualitas dari Amerika. Dengan logo tampilan dan nama yang berbau AS, banyak dari kita yang mengira LEA merupakan produk buatan negeri Paman Sam. Namun faktanya, LEA ternyata berasal dan diproduksi di Indonesia! Produsen dari LEA Jeans adalah PT. Lea Sanent yang lokasi kantornya berada di Jakarta. Selain celana jeans, LEA juga memproduksi pakaian berbahan denim lainnya, seperti jaket, kameja, hingga rok. Soal kualitas dan reputasi, LEA layak disejajarkan dengan brand-brand dari luar negeri.

2. Eiger

Pernah dengar Eiger, Bodypack, Exsport, Nordwand, Neosack, atau XTREME? Atau pernah pakai? Para pecinta travelling dan backpacker, mungkin sudah sering berlangganan dengan merek-merek tersebut. Mendengar namanya, kita akan mengira produk-produk tersebut berasal dari eropa. Apalagi Eiger, yang sebagian besar produknya merupakan aksesories dan peralatan outdoor, sama dengan nama Gunung Eiger di Swiss. Namun, merek-merek diatas adalah produk buatan dalam negeri yang diproduksi oleh PT. Eksonindo Multi Product Industry (EMPI).

3. Tomkins

Ketika mendengar nama Tomkins, banyak yang mengira produk ini bukan produk lokal karena namanya yang terkesan sangat luar negeri. Tomkins merupakan brand dari berbagai jenis sepatu mulai dari sepatu sekolah, sepatu olahraga, sepatu futsal, sepatu bikers, dan berbagai sepatu olah raga lainnya. Tomkins sendiri diproduksi oleh PT. Primarindo Asia Infrastucture Tbk yang proses produksinya dilakukan di kota Bandung.

4. WAKAi

WAKAi merupakan merek sepatu kanvas yang sedang tren di kalangan anak muda. WAKAi sendiri memiliki logo berwarna merah dengan tulisan kanji bertuliskan Wakai ライフスタイル (dibaca 'Wakai Raifustairu). Ditambah ketika melihat produk-produk milik WAKAi, terdapat tulisan "Made of Japan". Plus situs resmi dari produk ini berdomain '.jp' (wakaishoes.jp), membuat siapapun akan menyangka produk ini di buat di jepang. Tapi tunggu dulu, sepatu kanvas yang sedang tren di kalangan anak muda ini sebenarnya diproduksi di indonesia.
Sebenarnya, WAKAi adalah produk asli Indonesia. Sepatu kanvas tersebut diproduksi PT Metrox Global, pemegang lisensi produk fashion mancanegara, termasuk Crocs dan Superdry. Tangan Jepang hanya menyentuh sebagian kecil prosesnya. "Sebagian besar desain dibuat desainer Jepang," kata Hendrick Setioadithyo, Kepala Komunikasi Pemasaran Wakai, seperti ditulis Koran Tempo. Berbekal sentuhan tangan asing tersebut, mereka pun mencantumkan embel-embel "Made of Japan", yang sekilas terbaca "Made in Japan".

5. The Executive

Bagi pekerja kantoran atau mereka yang senang berpenamilan formal, tentunya sudah tidak asing dengan merek The Executive. Brand ini bisa dikatakan paling banyak diminati oleh pekerja kantoran, khususnya di Indonesia. Brand ini juga sering dijumpai di Malaysia, Singapura, dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya, membuat brand ini terkesan sangat luar negeri. Akan tetapi, brand yang awalnya bernama Executive 99 ini, asli buatan Indonesia. Merek "Executive 99" lahir pada tahun 1974. Pada tahun Pada tahun 1984, PT. Delami Garment Industries mengambil alih merek Executive 99, pada saat itu sebagai pemimpin pasar dalam kategori celana pria. Dan tahun 2000 berganti nama menjadi The Executive.

6. Buccheri

Banyak konsumen produk Buccheri mengira bahwa brand ini merupakan produk sepatu asal Italia. Pasalnya, Buccheri itu sendiri merupakan nama sebuah kota di Italia yang notabene memang negara penghasil sepatu dengan merek-merek terkenal, seperti Gino Mariani, Versace, dan Dolce Gabanna. Tapi faktanya, produsen sepatu sekaligus tas kulit ini asli dari Indonesia. Buccheri diproduksi mulai tahun 1980 oleh PT. Vigano Cipta Perdana. Diawali dengan pembukaan toko di daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat, saat ini Buccheri telah memiliki lebih dari 90 cabang yang tersebar di seluruh kota-kota besar di Indonesia.

7. Edward Forrer

Edward Forrer sekilas mungkin terdengar seperti nama orang asing. Namun faktanya, Edward Forrer, atau yang akrab disapa Edo, adalah pendiri perusahaan alas kaki dan tas yang diberi merek sesuai dengan namanya. Edo memulai produksi sepatu pada tahun 1989 di Bandung, Jawa Barat. Awalnya, Edo memasarkan sepatunya dari pintu ke pintu (door-to-door). Karena desain sepatunya yang dikenal unik dan kokoh karena dibuat dengan tangan, membuat namanya menyebar dengan cepat. Produksinya yang awalnya hanya lima pesanan dalam seminggu, dalam setahun menjadi lima pesanan dalam sehari. Dalam lima tahun pertama, Edo mampu membuat sendiri sepatu-sepatunya, namun dengan bertambahnya penjualan, ia mencari pemasok lain yang mampu memproduksi sepatu-sepatunya. Pada tahun 2003 Edward Forrer melakukan ekspansi besar-besaran dengan menambah gerai-gerai baru di Indonesia. Ia juga mewaralabakan merek Edward Forrer. Kini Edward Forrer memiliki lebih dari 50 gerai di Indonesia, Australia, Malaysia, dan Hawaii.

8. Sophie Martin

Sophie Martin atau Sophie Paris mungkin membuat setiap orang yang pertama kali mendengarnya akan menyangka bahwa perusahaan MLM (Multi Level Marketing) ini berasal dari Paris Prancis. Akan tetapi, faktanya perusahaan ini didirikan dan berkantor pusat di Indonesia. Sophie Martin didirikan oleh sepasang suami istri berkebangsaan Prancis yang datang ke Indonesia, yaitu Bruno Hasson dan Sophie Martin. Nama Sophie Martin diambil dari nama pemilik perusahaan ini. Sophie lahir di Paris pada 1969. Ia menyelesaikan pendidikannya di Academic Des Beaux Art Paris, kemudian memulai karirnya dengan bekerja pada ayahnya yang merupakan seorang importir tas Italia yang terkenal sejak tahun 1970-1990.
Karir Sophie semakin berkembang ketika bergabung dengan Christian Dior selama dua tahun sebagai seorang desainer handbag.
Keahlian Sophie dalam mendesain produk fashion terutama tas dan didukung kepiawaian Bruno Hasson dalam meletakkan dasar-dasar manajemen menjadikan Sophie Martin berkembang pesat dalam waktu kurang lebih sepuluh tahun.
Seiring dengan perkembangannya, Sophie Martin mengadakan perubahan besar pada mereknya, yaitu menjadi Sophie Paris. Jika dulu, katalog berjudul Sophie Martin, maka saat ini nama katalog tersebut adalah Sophie Paris. Nama Sophie Martin sendiri tetap dipakai menjadi salah satu merek produk disamping Son, IN2(XS), dan Sophie Kids.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar